Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2018


Bagaimana sebenarnya hukum puasa di bulan Rajab ini? Adakah tuntutannya? 

Bisa dikatakan bahwa asal-muasal orang melakukan puasa Rajab berangkat dari berbagai riwayat yang dianggapnya  hadits Nabi saw, padahal sebenarnya sama sekali bukan. Karena apa yang dianggapnya hadits itu, dilihat dari sudut pandang Ilmu Hadits adalah tidak sah (dla’if), bahkan banyak yang palsu (maudlu’). Berikut ini adalah beberapa riwayat lemah tersebut.
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ لَهُ: رَجَبٌ أَشَدَّ بِيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ قَالَ ابْنُ الْجَوْزِيْ فِي أَسْنَى الْمَطَالِبِ: لاَيَصِحُّ، وَقَالَ الذَّهَبِي: بَاطِلٌ
Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai bernama “sungai Rajab” yang airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu. Barang siapa berpuasa sehari dari bulan Rajab itu, dia akan diberi minum oleh Allah dari sungai tersebut.

Kata Ibnul Jauzi dalam Asnal Mathalib : Hadits tersebut tidak sah. Sedang adz-Dzahabi mengatakan: batil.
صَوْمُ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنْ رَجَبٍ كَفَّارَةُ ثَلاَثِ سِنِيْنَ وَالثَّانِي كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ وَالثَّالِثِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ ثُمَّ كُلِّ يَوْمٍ شَهْرًا) أَيْ صَوْمُ كَلِّ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِهِ الْبَاقِيَّةِ بَعْدْ الثَّلاَثِ يُكَفِّرُ شَهْرًا. ذَكَرَهُ فِي الْجَامِعِ عَنِ الْخَلاَّلِ وَضَعَّفَهُ، وَقَالَ شَارِحُهُ: إِسْنَادُهُ سَاقِطٌ.
“Puasa Rajab di hari pertama itu bisa menghapus dosa-dosa tiga tahun, sedang di hari kedua bisa menghapus dosa-dosa dua tahun, dan di hari ketiga bisa menghapus dosa-dosa setahun, dan di hari-hari berikutnya untuk setiap  harinya bisa menghapus dosa sebulan.” 

As-Suyuthi mencatat hadits tersebut dalam bukunya al-Jami’ush Shaghiir dari al-Khallal dan dia mendla’ifkannya. Sementara pensyarahnya mengatakan: Sanad hadits tersebut saqith (gugur).
فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ. قَالَ عَلِيُّ اْلقَارِي: قَالَ الْعَسْقَلاَنِي: مَوْضُوْعٌ
Keutamaan bulan Rajab dibandingkan dengan bulan-bulan lain adalah seperti keutamaan kalamullah melebihi segala macam omongan. 

Ali al-Qari mengatakan, bahwa al-Asqalani mengatakan: Hadits ini maudhu’/palsu.
Apakah memang benar-benar tidak ada riwayat shahih yang khusus meriwayatkan Nabi pernah berpuasa pada bulan rajab. Jawabnya, memang riwayat seperti itu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut.
عَنْ عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ
Utsman bin Hakim al-Anshari meriwayatkan, katanya: Aku pernah bertanya kepada Said bin Jubair seputar puasa Rajab, yang waktu itu kami sedang berada di bulan Rajab, maka jawabnya: Aku pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan: Rasulullah saw pernah berpuasa (Rajab) hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka, tetapi beliaupun berbuka hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berpuasa. (HR Muslim).
Namun, Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan tentang hadits ini sebagai berikut:
الظَّاهِر أَنَّ مُرَادَ سَعِيد بْن جُبَيْر بِهَذَا اْلإِسْتِدْلاَلِ أَنَّهُ لاَ نَهْيَ عَنْهُ، وَلاَ نَدْبَ فِيهِ لِعَيْنِهِ، بَلْ لَهُ حُكْمٌ بَاقِي الشُّهُورِ، وَلَمْ يَثْبُتْ فِي صَوْمِ رَجَبٍ نَهْيٌ وَلاَ نَدْبٌ لِعَيْنِهِ، وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ، وَفِي سُنَن أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْمِ مِنْ اْلأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَرَجَبٌ أَحَدُهَا
Zhahirnya apa yang dimaksud oleh Said bin Jubair terhadap riwayat yang dikatakan oleh Ibnu Abbas tersebut, bahwa berpuasa di bulan Rajab itu tidak ada larangan, juga tidak ada sunat khusus. Namun puasa itu sendiri (selain Ramadhan) adalah sunat. Sementara dalam Sunan Abu Daud dikatakan : “Bahwa Rasulullah saw menyunatkan berpuasa di bulan- bulan haram, sedang Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan haram itu.” Yakni, di bulan- bulan haram, antara lain Rajab, disunatkan berpuasa, tetapi tidak ada puasa khusus selain puasa Arafah ( 9 Dzilhijjah) dan ‘asyura (10 Muharram).
Karena itu Ibnul Qayim mengatakan:
 وَلَمْ يَصُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الثَّلاَثَةَ اْلأَشْهُرَ سِرْدًا كَمَا يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَلاَ صَامَ رَجَبًا قَطٌّ وَلاَ اسْتَحَبَّ صِيَامَهُ بَلْ رَوَى عَنْهُ النَّهْيُ عَنْ صِيَامِهِ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَّةِ
Nabi Muhammad saw tidak pernah puasa tiga bulan berturut-turut seperti yang biasa dilakukan oleh sebagian orang, juga tidak pernah berpuasa Rajab (secara khusus), juga tidak pernah menganjurkannya. Bahkan diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw melarangnya.
Dalam kitab al-Ba’its dikatakan:
إِنَّ الصِّدِّيْقَ أَنْكَرَ عَلَى أَهْلِهِ صِيَامِهِ، وَ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَضْرِبُ بِالدَّرَّةِ صَوَامِهِ وَيَقُوْلُ: إِنَّمَا هُوَ شَهْرٌ كَانَتْ تَعَظَّمَهُ الْجَاهِلِيَّةُ
Abu Bakar as-Siddiq menghardik keluarganya yang berpuasa Rajab. Sedang Umar pernah memukul orang yang sedang berpuasa Rajab dengan tongkat seraya berucap: Bulan Rajab hanyalah bulan yang biasa diagung-agungkan oleh masyarakat Jahiliyah.
Artinya, riwayat yang membicarakan puasa Rajab hanyalah hadits yang sifatnya umum yang memotivasi untuk melakukan puasa tiga hari setiap bulannya (ayyamul bidh) yaitu 13, 14, 15 dari bulan hijriyah. Juga dalil yang ada sifatnya umum yang berisi motivasi untuk melakukan puasa pada bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Begitu pula ada anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis. Puasa Rajab masuk dalam keumuman anjuran puasa tadi.
Kesimpulannya, puasa Rajab secara khusus tidak ada, apalagi sampai ditentukan mulai tanggal 1 sampai 27. Sementara puasa Sunat, seperti Senin-Kamis, Daud atau Ayyamul Bidh di bulan Rajab itu baik-baik saja, berdasarkan anjuran Nabi untuk berpuasa di bulan-bulan haram. Jika ingin puasa Rajab, maka pilihlah hari-hari yang disunnahkan: bisa ayyamul bidh, atau Senin-Kami. Adapun pengkhususan bulan Rajab dengan puasa pada hari tertentu, tidak ada dalil yang mensyariahkannya.
Wallahu a’lam.
Sumber: PWMU

Catatan tambahan: Juga tidak menjadi masalah apabila hendak memperbanyak puasa di Bulan Rajab (selain puasa-puasa sunnah yang biasa dilakukan pada bulan-bulan lain, berdasarkan anjuran untuk memperbanyak puasa di bulan-bulan Haram, dan Rajab adalah satu di antara 4 bulan Haram, selama tidak mengkhususkannya pada hari atau sejumlah tanggal tertentu. (red) Wallahu a’lam.



Billāhi fī sabīlil haq.

Fastabiqul khairat.

Selasa, 26 Desember 2017



Banjarmasin, 23 Desember 2017 - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah kota Banjarmasin melalui Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman adakan kajian bulanan bertajuk Islam dalam Bingkai Kebhinekaan. Pengajian ini menghadirkan tiga pembicara dari tiga Universitas di Banjarmasin yakni Prof. Khairuddin selaku Rektor UM Banjarmasin, Prof. Hadin selaku Rektor UNU Banjarmasin, dan Prof. Alim selaku Wakil Rektor 1 ULM Banjarmasin.

Muhammad Nasir selaku Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Banjarmasin dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema tersebut diangkat karena belakangan ini isu tentang kebhinnekaan sedang hangat-hangatnya dibicarakan, bahkan menyerang umat Islam di Indonesia. Dalam pelaksanaan Kajian Bulanan kali ini juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama antara Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan dengan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Banjarmasin dalam Bidang Pemberdayaanm terkhusus difabel di Kota Banjarmasin.


Kajian ini dibuka dan dihantarkan oleh Ayahanda Muhtar Ahmadi sebagai perwakilan dari PDM Banjarmasin. Beliau menyampaikan bahwa Muhammadiyah dan NU bagaikan dua sayap yang tak terpisahkan dalam perjalanan Bangsa dan NKRI. Aula UM Banjarmasin menjadi saksi bisu atas berlangsungnya kegiatan yang dihadiri oleh warga yang berasal dari berbagai afiliasi baik Muhammadiyah, NU, maupun yang lainnya. Hadirin berkumpul dan membawa spirit persatuan sebagai masyarakat Indonesia yang ber-Bhinneka.


Prof . Khairudin dalam pemaparanya mengatakan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Dan slam, adalah agama yang memberikan peluang bagi pluralistik, yakni keberagaman. Saling berlomba-lombalah menuju kebaikan, tanpa saling menjatuhkan.

Prof. Hadin mengatakan bahwa dibandingkan dengan negara-negara Islam, Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki mereka, yakni nasionalisme. Indonesia dengan keberagaman yang sangat plural mampu untuk tetap hidup berdampingan dengan aman dan damai. Bahkan NU dan Muhammadiyah, sudah tidak perlu diajari tentang keberagaman.

Prof. Alim menuturkan bahwa keberagaman adalah tantangan yang harus dihadapi masyarakat, karena konsep ini merupakan aset bangsa yang berharga. Karena Indonesia terbentuk atas sebuah konsep perbedaan. Banyak agama yang terlibat dalam pembentukan negara ini. Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapinya. Muhammadiyah dan NU yang merupakan dua organisasi agama terbesar di Indonesia memiliki peran besar dalam menjaga keberagaman ini. Menjadi dua pilar penyangga persatuan Indonesia.

Kemudian, pada sesi ke dua yakni sesi diskusi, kita mendapati pernyataan yang sangat menarik dari Prof. Khairuddin yag didukung penuh oleh Prof. Alim yakni tetang Muhammadiyah dan NU yang harus bersatu. Dalam artian, saling mendukung dan bersama dalam menjaga kesatuan Bangsa. Muhammadiyah dan NU ibarat satu pasang sandal, di mana keduanya tidak bisa bersatu namun saling meelengkapi dalam keberadaannya, dan saling mencari dalam ketiadaan salah satunya.

Kita berharap kebersamaan ini akan terus berlanjut dan spirit persatuan tiada pernah surut. Untuk Indonesia yang Bhinneka. Untuk Islam yang sebenar-benarnya.

Billāhi fī sabīlil haq.
Fastabiqul khairat.


(hs.nst)

Kamis, 16 November 2017

Milad Muhammadiyah ke-108 dalam Perhitungan Hijriyah

MAKKAH, Suara Muhammadiyah-Tepat 108 tahun yang lalu, pada 8 Dzulhijjah 1438 H, KH Ahmad Dahlan dan para muridnya di Kauman Yogyakarta mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Organisasi yang mengusung jargon gerakan Islam berkemajuan ini telah berkembang pesat. Semangat untuk mencerahkan umat dan membangun peradaban terus digelorakan.
Bertepatan dengan milad ke-108, dari kota Makkah Al-Mukarramah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir, MSi menyampaikan beberapa pesan. Sebagai berikut:
Pertama, bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga, khususnya karunia yang diberikan kepada Muhammadiyah hingga mampu bertahan dan berkembang dalam usia 108 tahun dengan melewati suka dan duka hingga makin menjadi matang, dewasa, cerdas, bijaksana, dan mampu menghadirkan pemikiran dan amaliah berkemajuan.
Kedua, Muhammadiyah bermuhasabah atas kekurangan dan kelemahan, maka selayaknya Milad dijadikan momentum untuk melakukan perubahan-perubahan transformatif yang bermakna menuju Muhammadiyah berkemajuan di berbagai bidang garapannya agar geraknya melampaui yang lain dalam spirit fastabiqul khairat.
Ketiga, Muhammadiyah niscaya harus menghadirkan pusat-pusat keunggulan di bidang pemikiran dan amal usaha yang selama ini digarap agar menjadi kekuatan alternatif di tengah persaingan ketat dalam pergerakan dinamika kehidupan nasional dan global.
Keempat, bagi warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan termasuk di amal usaha dan jamaah agar semakin memperkuat komitmen dalam bermuhammadiyah untuk berdakwah dan bertajdid sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimiliki bermodalkan keikhlasan, pengkhidmatan, dan militansi keislaman untuk meraih ridla dan karunia Allah SWT.
Kelima, kepada seluruh Pimpinan Persyarikatan, Ortom, Majelis, Lembaga, Amal Usaha, dan institusi yang berada dalam Muhammadiyah niscaya menegakkan paham agama sebagaimana yang dipedomani Muhammadiyah, ideologi, serta segala ketentuan dan kebijakan Persyarikatan sehingga menjadi gerakan yang solid, kuat, dan maju dalam satu barisan yang kokoh. Seraya menghindari dan mencegah hal-hal yang bertentangan dengan paham agama, ideologi, ketentuan, dan kebijakan Muhammadiyah.
Keenam, kepada segenap pihak hendaknya memperhatikan dan mendukung kaderisasi dan para kader Muhammadiyah sebagai generasi penerus yang unggul, berkhidmat, dan menjadi pelaku gerakan yang bermakna bagi kemajuan persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan universal.
Ketujuh, kepada seluruh amal usaha Muhammadiyah agar berbenah dan memperbarui diri disertai melakukan inovasi-inovasi yang menghasilkan keunggulan.
Kedelapan, dalam menghadapi kehidupan keumatan dan kebangsaan yang sarat isu dan dinamika hendaknya selalu mengacu pada prinsip-prinsip Peryarikatan dan Kebijakan Pimpinan Pusat sebagainana telah menjadi keketentuan yang beelaku dalam organisasi Muhammadiyah.
Kesembilan, kepada warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah hendaknya menjaga spiritualitas dan akhlaq karimah dalam bersikap, berkata, dan bertindak lebih-lebih dengan media sosial yang semakin bebas agar tetap menjadi uswah hasanah mengikuti keteladanan Nabi Muhammad SAW.
“Semoga Muhammadiyah makin maju dan unggul serta memberi makana dalam membangun peradaban umat, bangsa, dan kemanusiaan universal yang rahmatan lil-‘alamin dalam naungan  Rahman dan Rahim Allah SWT,” harap Haedar Nashir. (Ribas/PP Muh)

Senin, 13 November 2017


 Beberapa waktu yang lalu, Muhammadiyah mengimbau kepada seluruh warga persyarikatan untuk membantu menyebarkan kesimpulan fatwa tarjih melalui beberapa gambar tentang cadar, celana cingkrang bagi laki-laki, dan sebagainya. Bahkan, ada sebagian dari pembaca pesan dalam gambar-gambar tersebut yang mengira/berasumsi bahwa Muhammadiyah melarang penggunaan cadar, celana cingkrang, dan semisalnya. Benarkah demikian?

Senin, 09 Oktober 2017


Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) Banjarmasin pada Sabtu (7/10) mengadakan Talk Show yang berjudul “Bukan Mahasiswa Biasa” dengan slogan "Berorganisasi dan Tetap Berprestasi" di Aula Perpustakaan Pusat Lantai 1 UNLAM Banjarmasin.
Talk Show tersebut PK IMM UNLAM Banjarmasin menghadirkan Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, SE, M.Si, Wakil Rektor 1 Universitas Lambung Mangkurat (Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), Dr. H. Sarbaini, M.Pd, Dosen UNLAM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan), dan M. Abid Mujaddid Founder Teach And Trip (Ketua Bidang Hikmah PC IMM Kota Banjarbaru).
M. Abid Mujaddid memaparkan tentang kehidupan mahasiswa dan dinamikanya berdasarkan realita dengan sangat terstruktur, mulai dari jenis-jenis kegiatan mahasiswa, hingga bagaimana seharusnya mahasiswa agar waktunya tidak sia sia. 




Tiga kompetensi dasar IMM cukup untuk menggambarkan dengan ringkas, namun tetap kaya isi. Tiga kompetensi dasar tersebut ialah religiusitas, yakni bagaimana kita sebagai mahasiswa menjaga tata krama, moral, dan agama. Intelektualitas, tentang bagaimana kita sebagai mahasiswa memiliki nilai intelektual yang tinggi, kritis, mampu menganalisis. Humanitas, bagaimana kita sebagai mahasiswa yang berkepedulian sosial.
Selanjutnya, Ayahanda Ahmad Alim Bahri juga menyampaikan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan kemampuan memimpin bermula dari memimpin diri sendiri. 


“Dalam memimpin tentunya diperlukan adanya pengalaman maka dari itu dengan berorganisasi kita bisa mengembangkan kualitas diri menjadi lebih baik lagi. Banyak hal yang tidak kita dapat dibangku perkuliahan dan hanya kita dapat di organisasi seperti teknik lobby, tata cara persidangan, cara berpidato dan banyak hal lainnya. Hal tersebut juga nantinya membuat kita dapat mengaplikasikan berbagai pengetahuan tersebut kemasyarakat,” 
Bahwa untuk mencapai impian, bahkan sekedar untuk mendapat pekerjaan, angka yang didapat dari bangku perkuliahan bukanlah modal tunggal, sebab ada modal yang pada kondisi tertentu--seringkali--lebih berperan. Pengalaman, teman, manajemen diri, aksi, dan relasi. Begitu kira-kira wejangan Ayahanda Ahmad Alim Bachri.
Bersamaan dengan acara ini, PK IMM Unlam juga melaksanakan Masa Ta'aruf dalam rangka memperkenalkan Muhammadiyah dan IMM secara umum kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Unlam, mengingat umur PK IMM Unlam yang memang masih terbilang muda sehingga belum banyak dikenal di kampus.


Dalam penyampaian materi tentang "Pola Pikir Berkemajuan", Ayahanda Sarbaini menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang menjunjung tinggi dan berlandaskan Al Qur'an dan As Sunnah, menganut prinsip wasathiyyah (moderat), dan pergerakan berkemajuan. Ayahanda juga menghimbau agar kita semua mengambil pelajaran dari mana saja, dan berkawan dengan siapa saja. Bahwa kita disatukan dalam satu komunitas besar yakni Al Islam. 
Harapan dari terselenggaranya kegiatan ini ialah menumbuhkan kesadaran dalam diri mahasiswa, bahwa menjadi mahasiswa bukan sebatas belajar dan mencari gelar, tapi juga membawa perubahan menuju kebaikan dalam tatanan sosial.

Billāhi fī sabīlil haq.

Fastabiqul khairat.




(hs.nst)

Kamis, 05 Oktober 2017



Tidak sedikit dari masyarakat, bahkan ada dari warga Muhammadiyah sendiri yang mempertanyakan mengapa Muhammadiyah tidak berpegang pada satu madzhab sebagaimana organisasi keislaman lainnya yang menyatakan, atau setidaknya berkecenderungan kepada suatu madzhab tertentu. Bahkan, ada yang lebih ekstrim mengatakan bahwa Muhammadiyah anti madzhab. Wallaahu waliyyuttaufiiq. Sebelum berasumsi dan memprediksi lebih-lebih memvonis pasca timbulnya pertanyaan tersebut, sebaiknya kita simak penjelasan tentang itu dari sumbernya langsung. Mari J

“Tidak mengikat diri kepada suatu madzhab, tetapi pendapat-pendapat madzhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum, sepanjang sesuai dengan jiwa al-Quran dan as-Sunnah atau dasar dasar lain yang dipandang kuat”

Kutipan tersebut merupakan salah satu bagian dari pokok-pokok Manhaj Majlis Tarjih, yang mana dari sana dapat kita pahami bahwa Muhammadiyah memang tidak terikat pada salah satu madzhab. Namun, bukan berarti Muhammadiyah menolak/anti dengan madzhab, sebab di sana juga disebutkan bahwa pendapat madzhab dapat menjadi bahan pertimbangan. Muhammadiyah tentu menghormati para mujtahid muthlaq  termasuk Imam-imam madzhab, namun bagaimana pun juga pendapat-pendapat para imam tidaklah memiliki kebenaran secara mutlak sebagaimana kebenaran al-Quran dan as-Sunnah ash-Shahihah. Pendapat-pendapat para imam tersebut sangat erat kaitannya dengan keadaan semasa hidup mereka, dimana pasti akan terdapat hal-hal yang kurang relevan dengan apa yang kita temui di masa ini.
Muhammadiyah berusaha melakukan apa yang Rasulullah sabdakan, dari Anas bin Malik
“Aku telah meninggalkan kepadamu sekalian dua perkara, tidak akan tersesat kamu selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.” (Al Muwaththa’)
Serta apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan salah satu dari Imam Madzhab, yakni
“Janganlah engkau taqlid kepadaku, demikian juga kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i, dan Imam ats-Tsauri. Namun, ambillah (ikutilah) dari mana mereka (para Imam itu) mengambil (yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah).

Singkatnya, tidak mengikuti madzhab-madzhab tertentu bukan berarti tidak menghormati pendapat para Imam fuqaha, namun hal ini justru langkah untuk menghormati mereka karena mengikuti metode dan jalan hidup mereka serta melaksanakan pesan-pesan mereka agar tidak bertaqlid. Jadi, sebenarnya hal penting yang perlu diikuti adalah menggali pendapat itu dari sumber pengambilan mereka yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang tidak diragukan lagi kebenarannya.

Wallaahu a’lam.


Sumber bahan: Fatwa Tarjih

Billāhi fī sabīlil haq.

Fastabiqul khairat.




(hs.nst)

Selasa, 22 Agustus 2017


Alhamdulillāh.
Ashalātu wassalāmu 'alā Rasūlillāh.
Ammā ba'du.

Alhamdulillah, pada 13 - 14 Juni 2017 lalu salah satu kader PK IMM Unlam Banjarmasin berinisiatif melaksanakan Camp Ramadhan di Desa Karang Indah, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola, Kalsel.

Kamis, 25 Mei 2017





Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Immawati PK IMM Unlam Banjarmasin berkesempatan menghadiri diskusi yang diselenggarakan oleh Bidang Immawati PK IMM UIN Antasari pada hari ini, Kamis (25/5/2017) di Aula SD Muhammadiyah 9 Banjarmasin. Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka Milad ‘Aisyiyah ke-100 dan mengangkat tema “Pengaplikasian Keteladanan Nyai Walidah dalam Diri Kader Putri Muhammadiyah”

Kegiatan ini dimulai dengan materi pengantar dari Ibunda Hj. Wadiyah, S.Pd dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kalimantan Selatan dan Ibunda Siti Baroroh sebagai perwakilan dari Nasyi’atul ‘Aisyiyah. Ibunda Wadiyah menyampaikan sejarah perjuangan Nyai Walidah. Nyai Walidah merupakan pejuang wanita pada tiga zaman besar dalam sejarah Indonesia yakni masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan masa pascakemerdekaan Indonesia.

Siti Walidah lahir di desa Kauman, Yogyakarta pada 1872M. Putri ke-4 Ki Penghulu Muhammad Fadlil, penghulu Keraton Yogyakarta pada masanya dari tujuh bersaudara. Perjuangannya membimbing agama Islam dan ibu-ibu, gadis, dan remaja putri di lingkungannya tercatat oleh sejarah. Beliau menekankan dan membiasakan untuk senantiasa hidup sederhana, disiplin, jujur, suka menolong, berwawasan luas, cerdas, simau berkorban untuk orang lain. 


Nyai Walidah adalah pejuang yang mengangkat harkat dan martabat kaum wanita serta gigih dalam membina umat. Sejarah merekam keberhasilan Nyai Walidah dalam bidang pendidikan meskipun beliau sendiri tidak mengenyam pendidikan formal. Atas partisipasinya yang begitu besar dalam membangun masyarakat, pada tanggal 22 September 1971 pemerintah RI mengangkat beliau menjad Pahlawan Nasional dengan nomer pengesahan no.42/TK/tahun 1971. Ibunda juga menceritakan tentang begitu banyak keteladanan dari Nyai Walidah yang perlu bahkan harus diteladani dan diaplikasikan oleh putri Muhammadiyah secara khusus dan muslimah secara umum dalam kehidupan.

Kami mengutip pesan-pesan Nyai Walidah di akhir usianya dari penyampaian Ibunda Siti Wadiyah,

Saya titipkan Muhammadiyah dan Aisyiyah kepadamu, sebagaimana Kiyai Ahmad Dahlan berpesan kepada kaliyan..
Agar menjaga semangat hidup Muhammadiyah
Aku titipkan Muhammadiyah kepada kalian agar dijaga dan dipelihara dengan sungguh-sungguh.

            Nyai Walidah tutup usia pada Jum’at, 31 Mei 1946. Rahimahallah.

            Semoga Immawati dapat meneladani setiap keteladanan Nyai Ahmad Dahlan, lillahi ta’ala.



Billāhi fī sabīlil haq.

Fastabiqul khairat.




(hs.nst)

Minggu, 21 Mei 2017




Alhamdulillah, perwakilan PK IMM Unlam Banjarmasin berkesempatan hadir dalam Pembukaan Musyawarah Wilayah XIII Nasyiatul Aisyiyah yang mengusung tema “Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa” pada Sabtu (20/5/2017) kemarin di Aula Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Musywil XII NA ini masih berlanjut hingga hari ini (20-21/05/2017).