Senin, 01 Januari 2018



Banjarmasin, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Banjarmasin Pada (23/12) Melaksanakan penanda tanganan Kerja sama dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Selatan.
Pelaksanaan penanda tanganan tersebut disisipkan dalam rangkaian kegiatan kajian bulanan yang dilaksanakan oleh Bidang tabligh dan kajian keislaman PC IMM Kota Banjarmasin di Aula Universitas Muhammadiyah Banjarmasin .
Muhammad Nasir selaku Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Banjarmasin menyampaikan bahwa ats nama kelembagaan tentu sangat bahagia dan tersanjung atas kepercayaan yang di berikan ayahanda MPM PWM Kalimantan Selatan dalam hal kerja sama pemberdayaan masyarakat.
Adapun kerja sama pemberdyaaan ini merupkan bentuk realisasi salah satu trilogi IMM yakni humanitas (Kemasyarakatan), saya mendukung secara penuh untuk pergerakan kedepanya dari kader IMM di kota Banjarmasin untuk ikut dalam mewujudkan tujuan yang dikehendaki bersama dalam dalam hal pemberdayaan masyakarat, tambahnya
Herliansyah sebagai ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat menyampaikan bahwa dengan adanya kerja sama ini saya mengharapkan kepada mahasiswa sebagai pemuda juga ikut andil bersama sama MPM PWM Kalimantan Selatan dalam pemberdayaan masyarakat terkhusus di kota Banjarmasin. Dalam isi kerja sama ini kami bersepakat akan memprioritaskan pemberdayaan difabel di kota Banjarmasin.
Sebagai bentuk realisasi kerjama sama ini beberapa waktu yang lalu antara PC IMM Kota Banjarmasin dan MPM PWM Kalimantan Selatan telah menyepakati membuat “Relawan Al-Maun” untuk mengakomodir mahasiswa secara umum di kota Banjarmasin untuk ikut terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Adapun relawan al-maun nantinya akan di koordinir oleh PC IMM Kota Banjarmasin melalui Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat. (MN)

Selasa, 26 Desember 2017



Banjarmasin, 23 Desember 2017 - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah kota Banjarmasin melalui Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman adakan kajian bulanan bertajuk Islam dalam Bingkai Kebhinekaan. Pengajian ini menghadirkan tiga pembicara dari tiga Universitas di Banjarmasin yakni Prof. Khairuddin selaku Rektor UM Banjarmasin, Prof. Hadin selaku Rektor UNU Banjarmasin, dan Prof. Alim selaku Wakil Rektor 1 ULM Banjarmasin.

Muhammad Nasir selaku Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Banjarmasin dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema tersebut diangkat karena belakangan ini isu tentang kebhinnekaan sedang hangat-hangatnya dibicarakan, bahkan menyerang umat Islam di Indonesia. Dalam pelaksanaan Kajian Bulanan kali ini juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama antara Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan dengan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Banjarmasin dalam Bidang Pemberdayaanm terkhusus difabel di Kota Banjarmasin.


Kajian ini dibuka dan dihantarkan oleh Ayahanda Muhtar Ahmadi sebagai perwakilan dari PDM Banjarmasin. Beliau menyampaikan bahwa Muhammadiyah dan NU bagaikan dua sayap yang tak terpisahkan dalam perjalanan Bangsa dan NKRI. Aula UM Banjarmasin menjadi saksi bisu atas berlangsungnya kegiatan yang dihadiri oleh warga yang berasal dari berbagai afiliasi baik Muhammadiyah, NU, maupun yang lainnya. Hadirin berkumpul dan membawa spirit persatuan sebagai masyarakat Indonesia yang ber-Bhinneka.


Prof . Khairudin dalam pemaparanya mengatakan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Dan slam, adalah agama yang memberikan peluang bagi pluralistik, yakni keberagaman. Saling berlomba-lombalah menuju kebaikan, tanpa saling menjatuhkan.

Prof. Hadin mengatakan bahwa dibandingkan dengan negara-negara Islam, Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki mereka, yakni nasionalisme. Indonesia dengan keberagaman yang sangat plural mampu untuk tetap hidup berdampingan dengan aman dan damai. Bahkan NU dan Muhammadiyah, sudah tidak perlu diajari tentang keberagaman.

Prof. Alim menuturkan bahwa keberagaman adalah tantangan yang harus dihadapi masyarakat, karena konsep ini merupakan aset bangsa yang berharga. Karena Indonesia terbentuk atas sebuah konsep perbedaan. Banyak agama yang terlibat dalam pembentukan negara ini. Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapinya. Muhammadiyah dan NU yang merupakan dua organisasi agama terbesar di Indonesia memiliki peran besar dalam menjaga keberagaman ini. Menjadi dua pilar penyangga persatuan Indonesia.

Kemudian, pada sesi ke dua yakni sesi diskusi, kita mendapati pernyataan yang sangat menarik dari Prof. Khairuddin yag didukung penuh oleh Prof. Alim yakni tetang Muhammadiyah dan NU yang harus bersatu. Dalam artian, saling mendukung dan bersama dalam menjaga kesatuan Bangsa. Muhammadiyah dan NU ibarat satu pasang sandal, di mana keduanya tidak bisa bersatu namun saling meelengkapi dalam keberadaannya, dan saling mencari dalam ketiadaan salah satunya.

Kita berharap kebersamaan ini akan terus berlanjut dan spirit persatuan tiada pernah surut. Untuk Indonesia yang Bhinneka. Untuk Islam yang sebenar-benarnya.

Billāhi fī sabīlil haq.
Fastabiqul khairat.


(hs.nst)

Selasa, 12 Desember 2017


Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin mengucapkan Selamat dan Sukses! atas terselenggaranya Masta dan DAD VI Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kayuh Baimbai, di mana komisariat UNLAM juga merupakan anak kandung-nya.


Masta (Masa Ta'aruf) telah dilaksanakan di Pimpinan Daerah Muhammadiyah pada Sabtu, (26/11) dengan diisi beberapa materi yang memberikan pencerahan kepada hadirin tentang persyarikatan dan keIMMan, serta semangat-semangat baru dalam menjalani kehidupan perkuliahan.

Foto Bersama IMMawan Pada Masa Ta'aruf 
Foto Bersama IMMawati Pada Masa Ta'aruf 


DAD VI yang dilaksanakan di Masjid Ami Abdullah pada Kamis-Ahad, (7-9/17) lalu telah melahirkan 18 kader dari berbagai komisariat, calon-calon penerus estafet kepemimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, wa bil khusus Pimpinan Komisariat IMM Kayuh Baimbai.

Sesi Ta'aruf Pasca DAD

Ahlan wa sahlan.
Selamat datang kami ucapkan kepada IMMawan dan IMMawati sekalian. 
Welcome to the big family, Muhammadiyah Student Association. 

Selasa, 05 Desember 2017

Pada prinsipnya, Tim Fatwa belum pernah menemukan dalil tentang perintah menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw, sementara itu belum pernah pula menemukan dalil yang melarang penyelenggaraannya. Oleh sebab itu, perkara ini termasuk dalam perkara ijtihadiyah dan tidak ada kewajiban sekaligus tidak ada larangan untuk melaksanakannya. Apabila di suatu masyarakat Muslim memandang perlu menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Saw. tersebut, maka yang perlu diperhatikan adalah agar jangan sampai melakukan perbuatan yang dilarang serta harus atas dasar kemaslahatan.
Perbuatan yang dilarang di sini, misalnya adalah perbuatan-perbutan bid’ah dan mengandung unsur syirik serta memuja-muja Nabi Muhammad saw secara berlebihan, seperti membaca wirid-wirid atau bacaan-bacaan sejenis yang tidak jelas sumber dan dalilnya. Nabi Muhammad saw sendiri telah menyatakan dalam sebuah hadis:
“Diriwayatkan dari Umar ra., ia berkata: Aku mendengar Nabi saw bersabda: Janganlah kamu memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada saya secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani yang telah memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada Isa putra Maryam. Saya hanya seorang hamba Allah, maka katakan saja hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
Adapun yang dimaksud dengan kemaslahatan di sini, adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad saw yang dipandang perlu diselenggarakan tersebut harus mengandung manfaat untuk kepentingan dakwah Islam, meningkatkan iman dan taqwa serta mencintai dan meneladani sifat, perilaku, kepemimpinan dan perjuangan Nabi Muhammad saw. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan cara menyelenggarakan pengajian atau acara lain yang sejenis yang mengandung materi kisah-kisah keteladanan Nabi saw.
Allah SWT telah menegaskan dalam al-Qur’an, bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah sebaik-baiknya suri teladan bagi umat manusia. Allah berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. al-Ahzab (33): 21]
Wallahu a’lam bish-shawab. *amr)
*Fatwa ini pernah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Tahun 2009

Sumber: Situs Resmi Fatwa Tarjih


Billāhi fī sabīlil haq.
Fastabiqul khairat.


(hs.nst)

Minggu, 03 Desember 2017

Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin mengucapkan barakallah wa innalillah atas dilantiknya BPH Pimpinan Cabang (PC) IMM Kota Banjarmasin. Pelantikan berlangsung di Aula Universitas Muhammadiyah Banjarmasin pada Sabtu (02/12/2017) pagi. 
Acara Pelantikan ini disaksikan oleh AyahandaDrs. Maskur, MM selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Banjarmasin, Kakanda Yogi Adhiatma, S.Kep, Ns, dan Ayunda Siti Aulia Rahma, S.Pd dari Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Pimpinan Komisariat se-Kota Banjarmasin serta tamu undangan. 

Kamis, 23 November 2017

Banjarmasin. Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Lambung Mangkurat  Banjarmasin pada Selasa (21/11) mengadakan diskusi sekaligus silaturahmi dengan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia Komisariat UNLAM Banjarmasin dan Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII) Komisariat Unlam Banjarmasin di Halaman Gedung Serba Guna Unlam Banjarmasin.

Kamis, 16 November 2017

Milad Muhammadiyah ke-108 dalam Perhitungan Hijriyah

MAKKAH, Suara Muhammadiyah-Tepat 108 tahun yang lalu, pada 8 Dzulhijjah 1438 H, KH Ahmad Dahlan dan para muridnya di Kauman Yogyakarta mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Organisasi yang mengusung jargon gerakan Islam berkemajuan ini telah berkembang pesat. Semangat untuk mencerahkan umat dan membangun peradaban terus digelorakan.
Bertepatan dengan milad ke-108, dari kota Makkah Al-Mukarramah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir, MSi menyampaikan beberapa pesan. Sebagai berikut:
Pertama, bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga, khususnya karunia yang diberikan kepada Muhammadiyah hingga mampu bertahan dan berkembang dalam usia 108 tahun dengan melewati suka dan duka hingga makin menjadi matang, dewasa, cerdas, bijaksana, dan mampu menghadirkan pemikiran dan amaliah berkemajuan.
Kedua, Muhammadiyah bermuhasabah atas kekurangan dan kelemahan, maka selayaknya Milad dijadikan momentum untuk melakukan perubahan-perubahan transformatif yang bermakna menuju Muhammadiyah berkemajuan di berbagai bidang garapannya agar geraknya melampaui yang lain dalam spirit fastabiqul khairat.
Ketiga, Muhammadiyah niscaya harus menghadirkan pusat-pusat keunggulan di bidang pemikiran dan amal usaha yang selama ini digarap agar menjadi kekuatan alternatif di tengah persaingan ketat dalam pergerakan dinamika kehidupan nasional dan global.
Keempat, bagi warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan termasuk di amal usaha dan jamaah agar semakin memperkuat komitmen dalam bermuhammadiyah untuk berdakwah dan bertajdid sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimiliki bermodalkan keikhlasan, pengkhidmatan, dan militansi keislaman untuk meraih ridla dan karunia Allah SWT.
Kelima, kepada seluruh Pimpinan Persyarikatan, Ortom, Majelis, Lembaga, Amal Usaha, dan institusi yang berada dalam Muhammadiyah niscaya menegakkan paham agama sebagaimana yang dipedomani Muhammadiyah, ideologi, serta segala ketentuan dan kebijakan Persyarikatan sehingga menjadi gerakan yang solid, kuat, dan maju dalam satu barisan yang kokoh. Seraya menghindari dan mencegah hal-hal yang bertentangan dengan paham agama, ideologi, ketentuan, dan kebijakan Muhammadiyah.
Keenam, kepada segenap pihak hendaknya memperhatikan dan mendukung kaderisasi dan para kader Muhammadiyah sebagai generasi penerus yang unggul, berkhidmat, dan menjadi pelaku gerakan yang bermakna bagi kemajuan persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan universal.
Ketujuh, kepada seluruh amal usaha Muhammadiyah agar berbenah dan memperbarui diri disertai melakukan inovasi-inovasi yang menghasilkan keunggulan.
Kedelapan, dalam menghadapi kehidupan keumatan dan kebangsaan yang sarat isu dan dinamika hendaknya selalu mengacu pada prinsip-prinsip Peryarikatan dan Kebijakan Pimpinan Pusat sebagainana telah menjadi keketentuan yang beelaku dalam organisasi Muhammadiyah.
Kesembilan, kepada warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah hendaknya menjaga spiritualitas dan akhlaq karimah dalam bersikap, berkata, dan bertindak lebih-lebih dengan media sosial yang semakin bebas agar tetap menjadi uswah hasanah mengikuti keteladanan Nabi Muhammad SAW.
“Semoga Muhammadiyah makin maju dan unggul serta memberi makana dalam membangun peradaban umat, bangsa, dan kemanusiaan universal yang rahmatan lil-‘alamin dalam naungan  Rahman dan Rahim Allah SWT,” harap Haedar Nashir. (Ribas/PP Muh)